FILSAFAT KEILMUAN POST-MODERNISM (PASCA MODERNISME)

 FILSAFAT KEILMUAN POST-MODERNISM (PASCA MODERNISME)

lebih lengkapnya https://www.academia.edu/128133672/FILSAFAT_KEILMUAN_POST_MODERNISM_PASCA_MODERNISME_


BAB II

PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Munculnya Postmodernisme dan Tokohnya

1. Latar Belakang Munculnya Postmodernisme

Postmodernisme sebagai istilah dan ide mengharuskan adanya peredaran “modernisme”. Berlawanan dengan harapan umum, keduanya lahir di daerah pinggiran bukan di pusat sistem budaya pada waktu itu, keduanya tidak datang dari Eropa atau Amerika Serikat, tetapi dari Amerika Latin.

Munculnya postmodernisme tidak dapat dilepaskan dari modernisme itu sendiri. Kata modernisme mengandung makna serba maju, gemerlap, dan progresif. Modernisme selalu menjanjikan pada kita untuk membawa pada perubahan ke dunia yang lebih mapan di mana semua kebutuhan akan dapat terpenuhi. Rasionalitas akan membantu kita menghadapi mitos-mitos dan keyakinan-keyakinan tradisional yang tak berdasar, yang membuat manusia tak berdaya dalam menghadapi dunia ini.

Di abad ke-19 dan 20 dunia mengalami zaman modern yang penuh dengan hiruk-pikuk mulai dari pertarungan ideologi, Perang Dunia I dan II, kolonialisme, serta kekacauan yang hadir karena keponggahan manusia dalam memandang dunia hanya dengan melalui rasio. Dunia seolah dipilah-pilah oleh sains dan tidak ada tempat untuk mengutarakan pendapat atau emosi dari pihak subjek. Setelah itu lahirlah aliran postmodernisme yang didasari oleh ketidakpercayaan terhadap aliran modernisme yang dianggap telah gagal mewujudkan cita-cita yang mereka agung-agungkan yaitu ingin menyejahterakan seluruh umat manusia, tetapi malah sebaliknya, aliran modernisme dianggap telah gagal dan merusak tatanan kehidupan masyarakat. Modernisme justru menciptakan masyarakat yang terlalu individualistik, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan yang pintar membodohi orang yang bodoh, serta negara yang kuat menjajah negara yang lemah.

Modernisme, menurut Anthony Giddens, menimbulkan berkembangbiaknya petaka bagi umat manusia. Pertama, penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa. Kedua, penindasan oleh yang kuat atas yang lemah. Ketiga, ketimpangan sosial yang kian parah. Keempat, kerusakan hidup yang kian menghawatirkan.

Namun demikian, modernisme memiliki sisi gelap yang menyebabkan kehidupan manusia kehilangan diorientasi. Apa yang dikatakan oleh Max Horkheimer, Ardono, dan Herbert Marcuse bahwa pencerahan tersebut melahirkan sebuah penindasan dan dominasi disamping juga melahirkan kemajuan.

Tumbangnya modernisme dan munculnya postmodernisme dapat kita ketahui dari pemikiran filsafatnya Soren Kierkegaard (1813-1855), sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, yang menentang rekonstruksi- rekonstruksi rasional dan masuk akal yang menentukan keabsahan kebenaran ilmu. Sesuatu itu dikatakan benar ketika sesuai dengan konsensus atau aturan yang berlaku di dunia modern, yaitu rasional dan objektif. Namun tidak dengan Kierkegaard, dia berpendapat bahwa kebenaran itu bersifat subjektif. Truth is subjectivity, artinya bahwa pendapat tentang kebenaran subjektif itu menekankan pentingnya pengalaman yang dialami oleh seorang individu yang dianggapnya relatif.

Gejala Postmodernisme yang merambah ke berbagai bidang kehidupan tersebut yang didalamnya termasuk ilmu pengetahuan yang merupakan suatu reaksi terhadap gerakan modernisme yang dinilainya mengalami kegagalan. Modernisme yang berkembang dengan ditandai oleh adanya rasionalisme, materialisme, dan kapitalisme yang didukung dengan perkembangan teknologi serta sains menimbulkan disorientasi moral keagamaan dengan runtuhnya martabat manusia.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa modernisme membawa kehancuran bagi manusia, peperangan terjadi dimana-mana yang hal ini mengakibatkan manusia hidup dalam menderita. Pandangan modernisme menganggap bahwa kebenaran ilmu pengetahuan harus mutlak serta objektif, tidak adanya nilai dari manusia. Di sinilah muncul suatu paham postmodernisme yang merupakan kelanjutan, keterputusan, dan koreksi dari modernisme untuk memberikan suatu pemikiran baru dan solusi dalam menjalani kehidupan yang semakin kompleks ini. Bagi postmodernisme ilmu pengetahuan tidaklah objektif tetapi subjektif dan interpretasi dari manusia itu sendiri, sehingga kebenarannya adalah relatif.

Atas latar belakang itulah, para tokoh dan pemikir postmodernisme menghadirkan sebuah gagasan baru yang disebut dengan postmodernisme dalam rangka melakukan dekonstruksi paradigma terhadap berbagai bidang keilmuan, sebagai sebuah upaya untuk mengoreksi atau membuat dan bahkan menemukan paradigma yang baru.

2. Tokoh-tokoh Postmodernisme

a. Jean-Francois Lyotard

Jean-Francois Lyotard, merupakan salah satu filsuf postmodernisme yang paling terkenal sekaligus paling penting di antara filsuf-filsuf postmodernisme yang lainnya. Pemikiran Lyotard tentang ilmu pengetahuan dari pandangan modernisme yang sebagai narasi besar seperti kebebasan, kemajuan, dan sebagainya kini menurutnya mengalami permasalahan yang sama seperti abad pertengahan yang memunculkan istilah religi, nasional  kebangsaan, dan kepercayaan terhadap keunggulan negara eropa untuk saat ini tidak dapat dipercaya atau kurang tepat kebenarannya. Maka, postmodernisme menganggap sesuatu ilmu tidak harus langsung diterima kebenarannya harus diselidiki dan dibuktikan terlebih dahulu. Bagi Lyotard, ilmu pengetahuan postmodernisme bukanlah semata-mata menjadi alat penguasa, ilmu pengetahuan postmodern memperluas kepekaan kita terhadap pandangan yang berbeda dan memperkuat kemampuan kita untuk bertoleransi atas pendirian yang tak mau dibandingkan.

b. Michel Foucault

Michel Foucault, adalah seorang tokoh postmodernisme yang menolak keuniversalan pengetahuan. Ada beberapa asumsi pemikiran pencerahan yang ditolak oleh Foucault yaitu:

1) Pengetahuan itu tidak ersifat metafisis, transendental, atau universal, tetapi khas untuk setiap waktu dan tempat.

2) Tidak ada pengetahuan yang mampu menangkap katakter objektif dunia, tetapi pengetahuan itu selalu mengambil perspektif.

3) Pengetahuan tidak dilihat sebagai pemahaman yang netral dan murni, tetapi selalu terikat dengan rezim-rezim penguasa.

Namun demikian, menurut Foucault, tidak ada perpisahan yang jelas, pasti, dan final antara pemikiran pencerahan dan pasca-modern, atau antara modern dan pasca-modern. Paradigma modern, kesadaran, dan objektivitas adalah dua unsur membentuk rasional- otonom (logis dan sistematis), sedangkan bagi Foucault pengetahuan bersifat subjektif.

c. Jacques Derrida

Jacques Derrida jika membahas filsuf yang satu ini tidak akan lepas dari buah pikirannya tentang dekonstruksi. Dekonstruksi secara etimologis adalah berarti mengurai, melepaskan, dan membuka. 

Derrida menciptakan sebuah pemikiran dekonstruksi, yang merupakan salah satu kunci pemikiran postmodernisme, yang mencoba memberikan sumbangan mengenai teori-teori pengetahuan yang dinilai sangat kaku dan kebenarannya tidak bisa dibantah, yang dalam hal ini pemikiran modernisme. Derrida mencoba untuk meneliti kebenaran terhadap suatu teori pengetahuan yang baginya bisa dibantah kebenarannya yang dalam arti bisa membuat teori baru asalkan hal tersebut dapat terbukti kebenarannya dan dipertanggungjawabkan.

d. Jean Baudrillard

Jean Baudrillard dalam pemikirannya memusatkan perhatian kepada kultur, yang dilihatnya mengalami revolusi besar-besaran dan merupakan bencana besar. Revolusi kultural itu menyebabkan massa menjadi semakin pasif ketimbang semakin berontak seperti yang diperkirakan pemikir marxis. Dengan demikian, massa dilihat sebagai lubang hitam yang menyerap semua makna, informasi, komunikasi, pesan dan sebagainya, menjadi tidak bermakna. Massa menempuh jalan mereka sendiri, tak mengindahkan upaya yang bertujuan memanipulasi mereka. Kekacauan, apatis, dan kelebaman ini merupakan istilah yang tepat untuk melukiskan kejenuhan massa terhadap tanda media, simulasi, dan hiperealitas.

e. Fedrick Jameson

Menurut Jameson, postmodernisme memiliki dua ciri utama, yaitu pastiche dan schizofrenia. Jameson mulai dengan menjelaskan bahwa modernisme besar didasarkan pada gaya yang personal atau pribadi. Subjek individual borjois tidak hanya merupakan subjek masa lalu, tapi juga mitos subjek yang tidak pernah benar-benar ada, hanya mistifikasi, kata Jameson, yang tersisa adalah pastiche. Pastiche dari pastiche, tiruan gaya yang telah mati. Kita telah kehilangan kemampuan memposisikan ini secara historis. Postmodernisme memiliki konsep waktu yang khas. Jameson, menjelaskan apa yang ia maksudkan dengan menggunakan teori schizofrena lacan. Schizofrenik adalah pengalaman penanda material yang terpisah, terisolir, dan gagal membentuk rangkaian yang berhubungan.

B. Perbedaan antara Modernisme dan Postmodernisme

Kelahiran postmodernisme membuat istilah baru dan mengakibatkan perbedaan dengan paham modernisme. Berikut ini beberapa istilah yang digunakan oleh aliran modernisme dan postmodernisme atau pembeda antara keduanya.

MODERNISME

POSTMODERNISME

Sentralisasi

Desentralisasi

Pertarungan Kelas

Pertarungan Etnis

Konstruksi

Dekonstruksi

Kultur

Sub-Kultur

Hermeneutis

Nihilisme

Budaya Tinggi

Budaya Rendah

Hierarki

Anarki

Industri

Pasca-Industri

Teori

Paradigma

Kekuatan Negara

Kekuatan Bersama

Agama

Sekte-sekte

Legitimasi

Delegitimasi

Konsensus

Dekonsensus

Budaya Tradisional

Liberalisme

Kontinuitas

Diskontinuitas

Itulah perbedaan postmodernisme dan modernism dari segi penggunaan istilah yang diucapkan.

Modernisme dan Postmodernisme adalah dua gerakan intelektual yang sangat berpengaruh dalam seni, filsafat, dan budaya secara umum. Meskipun keduanya saling terkait, terdapat perbedaan mendasar yang membedakan keduanya.

Aspek

Modernisme

Postmodernisme

Kebenaran

Universal, objektif, dan dapat dicapai melalui ilmu pengetahuan.

Relatif, tergantung pada konteks, dan dibangun secara sosial.

Sejarah

Linier, progresif, menuju masyarakat yang lebih baik.

Fragmen, tidak linear, dan penuh dengan kontradiksi.

Bahasa

Cerminan realitas yang netral.

Membentuk realitas, penuh dengan makna ganda, dan tidak stabil.

Subjek

Utuh, otonom, dan rasional.

Terfragmentasi, dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya.

Ilmu Pengetahuan

Sumber kebenaran utama, bersifat objektif, dan bebas nilai.

Produk sosial dan budaya, dipengaruhi oleh kekuasaan dan kepentingan.

Seni dan Budaya

Mencari bentuk yang murni, universal, dan abadi.

Menekankan pluralisme, dekonstruksi, dan permainan pasca-modern.

Realitas

Tunggal, objektif, dan dapat dipahami secara rasional.

Berganda, subjektif, dan konstruksi sosial.

Kemajuan

Percaya pada kemajuan linear menuju masyarakat yang lebih baik.

Meragukan konsep kemajuan linear, lebih fokus pada perubahan yang cepat dan tidak pasti.

C. Kritik Postmodernisme terhadap Modernisme

Postmodernisme muncul sebagai sebuah gerakan intelektual yang secara radikal menantang asumsi-asumsi dasar dari modernisme. Jika modernisme mengagungkan rasionalisme, kemajuan linear, dan kebenaran universal, postmodernisme justru meragukan klaim-klaim tersebut.

Postmodernisme memandang bahwa ilmu pengetahuan bersifat subjektif. Implikasinya adalah bahwa tidak ada apa yang dinamakan ilmu bebas nilai. Sedangkan modernisme menganggap ilmu pengetahuan yang objektif maka bebas dari nilai.

Modernisme memandang ilmu-ilmu positif empiris atau ilmu pengetahuan mau tidak mau menjadi standar kebenaran tertinggi. Artinya pandangan modernisme yang objektif dan positivis. Pandangan postmodernisme lebih menekankan pluralitas, perbedaan, heterogenitas, budaya lokal/etnis, dan pengalaman hidup sehari-hari.

Berikut penjabaran kritik postmodernisme terhadap modernisme.

1. Penolakan terhadap Narasi Besar: Postmodernisme menolak narasi-narasi besar yang mendasari modernisme, seperti kemajuan linear menuju masyarakat yang lebih baik, atau klaim ilmu pengetahuan sebagai sumber kebenaran absolut.

2. Meragukan Objektivitas: Postmodernisme meragukan klaim bahwa ilmu pengetahuan bersifat objektif. Mereka berpendapat bahwa ilmu pengetahuan selalu dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan politik.

3. Dekonstruksi Bahasa: Postmodernisme mendekonstruksi bahasa, menunjukkan bagaimana bahasa tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga membentuknya. Mereka mengkritik pandangan modernisme yang menganggap bahasa sebagai alat yang netral untuk menyampaikan kebenaran.

4. Pluralisme Kebenaran: Postmodernisme menolak gagasan bahwa ada satu kebenaran universal. Mereka menekankan pluralisme kebenaran, di mana kebenaran bersifat relatif dan tergantung pada konteks.

5. Kritik terhadap Subjektivitas: Postmodernisme meragukan konsep subjek yang utuh dan otonom. Mereka menunjukkan bagaimana subjektivitas dipengaruhi oleh struktur sosial, budaya, dan bahasa.

Jadi postmodernisme memandang bahwa ilmu pengetahuan yang ditawarkan oleh modernisme akan membawa pada kehancuran. Modernisme tidak membawa kita pada kehidupan yang lebih layak dan bisa mengangkat harkat martabat manusia seperti apa yang telah dijanjikannya, namun malah sebaliknya. Postmodernisme berpandangan, harus dilakukan perombakan terhadap apa yang ditawarkan oleh modernisme dan juga harus dikaji ulang terlebih dahulu.

D. Prinsip Ilmiah Postmodernisme

Postmodernisme adalah sebuah gerakan intelektual yang muncul sebagai reaksi terhadap modernisme. Jika modernisme mencari kebenaran universal dan objektif, postmodernisme justru meragukan klaim-klaim tersebut. Prinsip-prinsip ilmiah dalam postmodernisme cenderung menekankan pada:

1. Relativisme Kebenaran: Postmodernisme menolak gagasan adanya kebenaran absolut dan objektif yang tunggal. Kebenaran dipandang sebagai konstruksi sosial dan kultural yang relatif terhadap konteks tertentu.

2. Pluralitas Perspektif: Alih-alih mencari satu penjelasan tunggal, postmodernisme mengakui pluralitas perspektif dan interpretasi. Setiap individu atau kelompok memiliki cara pandang yang unik terhadap dunia.

3. Kritik terhadap Metanara: Postanodernisme meragukan keberadaan metanara atau narasi besar yang dapat menjelaskan segala sesuatu. Narasi-narasi besar seperti agama, ideologi, atau ilmu pengetahuan dianggap sebagai konstruksi sosial yang bertujuan untuk menguasai dan mengontrol.

4. Pentingnya Bahasa dan Teks: Bahasa dan teks dipandang sebagai kekuatan yang membentuk realitas sosial. Postmodernisme menganalisis bagaimana bahasa dan teks digunakan untuk menciptakan makna dan kekuasaan.

5. Dekonstruksi: Postmodernisme sering menggunakan metode dekonstruksi untuk mengungkap asumsi-asumsi tersembunyi dan kekuasaan yang terkandung dalam teks atau diskursus.

6. Penolakan terhadap Otoritas: Postmodernisme menolak otoritas tunggal, baik itu otoritas ilmu pengetahuan, agama, atau negara. Pengetahuan dipandang sebagai hasil dari dialog dan negosiasi antara berbagai perspektif. 

Berikut adalah beberapa prinsip pemikiran postmodernisme:

1. Hancurnya gambaran tunggal kebenaran tunggal (desentralisasi) dan digantikan dengan partikularisme (paralogy),

2. Belokan kearah semiotik,

3. Perbedaan lebih dari identitas (pluralisme),

4. Ilmu sarat dengan nilai,

5. Keterikatan pada waktu, dan

6. Demokratisasi makna.

Prinsip pengetahuan era postmodern tidak lagi diligitismasi pada kesatuan ontologis melainkan pada logika. Kemajuan dan rasionalisasi yang digaungkan oleh modernitas lebih mengembangkan prinsip homology dan mengenyampingkan logika. Pola berfikir seperti inilah yang dikritik oleh postmodern karena bangunan epistemologi melahirkan masyarakat moderen yang chaos (tidak teratur) sebagai implikasi penerapan-penerapan prinsip epistimologi yang memberangus munculnya alternatif kebenaran-kebenaran.


 

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Perry. Asal-Usul Post Modernitas, Yogyakarta: Insight Reference, 2021, h. 1.

Hidayat, Ainur Rahman. “IMPLIKASI POSTMODERNISME DALAM PENDIDIKAN” 1 (2006).

Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016, h. 304.

Nadhif, Ahmad. “Prinsip-prinsip Postmodern dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam”, Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2012, h. 84.

Saputra, Romi. “Implementasi Paradigma Postmodernisme dalam Pembaharuan Hukum di Indonesia serta Kritik terhadanya”, Jurnal. Program Doktor Ilmu Hukum UMS, 2021, h. 68.

Sudrajat, Johan Setawan dan Ajat. “Pemikiran Postmodernisme dan Pandangannya terhadap Ilmu Pengetahuan”, Jurnal. Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2018, h. 28.

Tara, Resya. “Pengertian Postmodern & Contoh Tokohnya: Lyotard hingga Baudrillard.” tirto.id, t.t.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Islam Agama Cinta

KONSEP KECERDASAN JAMAK DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM